Bakteri Sakazakii

Belakangan ini banyak orang tua yang sempat panik karena susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter (E) Sakazakii tidak segera di umumkan sesuai hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB). Sampel susu yang diteliti IPB sebenarnya diambil pada 2003-2006. Meskipun demikian, wajar saja jika keresahan itu juga dialami orang tua yang baru memiliki bayi.

Temuan dari IPB bahwa 13,5 persen di antara 74 sampel susu formula mengandung bakteri E Sakazakii tidak terlalu mengejutkan. Sebab, Food and Drug Administration (FDA) telah melansir sebuah penelitian prevalensi kontaminasi susu di sebuah negara; diantara 141 susu bubuk formula didapatkan 20 (14 persen) kultur positif E Sakazakii.

Berbagai pihak telah memperoleh informasi yang tidak lengkap. Bahkan, diperparah de ngan broadcast BlackBerry Messenger (BBM) yang menyebutkan nama-nama susu formula yang disebut mengandung bakteri E Sakazakii. Dari mana asal mula berita berantai tersebut menjadi tidak penting, tapi dampak buruknya, yakni keresahan dalam masyarakat.

Timbulkan penyakit

Bakteri E Sakazakii memang merupakan salah satu jenis bakteri patogen yang bisa menimbulkan penyakit. Sesuai dengan namanya, enterobacter, bakteri ini juga ditemukan dalam saluran pencernaan mamnusia dan hewan.

Masyarakat perlu mewaspadai E Sakazakii karena bakteri jenis ini berpotensi menyebabkan radang selaput otak (meningitis). Masalahnya, bakteri ini bisa masuk dalam darah (bakteremia), penyebaran bakteri patogen dalam jaringan darah (sepsis), radang usus halus dan usus bear (enterokolitis), hingga kematian sel (necrosis).

Meskipun bakteri ini dapat menyerang berbagai kelompokusia, bayi adalah kelompok paling rentan. Risiko makin besar pada bayi berumur kurang dari 28 hari, bayi lahir prematur, bayi dengan berat lahir kurang dari dua kilogram, atau bayi berimunitas rendah. Publikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 13 Februari 2004 menyebutkan, sejak 1961-2003 hanya ditemukan 48 bayi yang sakit karena terinfeksi E Sakazakii.

E Sakazakii bukan mikro organisme normal pada saluran pencernaan hewan dan manusia. Telah ditengarai bahwa tanah, air, sayuran, tikus, dan lalat merupakan sumber infeksi. E Sakazakii dapat ditemukan dilingkungan industri makanan (pabrik susu, cokelat, sereal, dan pasta), lingkungan berair, serta sedimen tanah yang lembab. Pada sejumlah bahan makanan yang berpotensi terkontaminasi E Sakazakii, antara lain, keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk.

Jarang

Walaupun berbahaya, ternyata kejadian infeksi E Sakazakii sangat jarang. Di Amerika Serikat, angka kejadian infeksi E Sakazakii yang pernah dilaporkan adalah satu per 100 ribu bayi. Angka kejadian itu meningkat menjadi 9,4 per 100 ribu pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (<1,5 kg). Bayi prematur dengan berat badan lahir rendah (kurangdari 2.500 gram) dan penderitagangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko mengalami infeksi tersebut. Pada anak sehat belum pernah dilaporkan terjadi infeksi bakteri itu.

Berbagai temuan itulah yang mungkin menjelaskan mengapa di Indonesia belum ada laporan terjadinya korban terinfeksi E Sakazakii, meskipun sudah ditemukan banyak susu terkontaminasi. Para peneliti IPB mendapatkan 14 per sen, FDA menemukan 13,5 per sen produk susu yang me ngandung bakteri E Sakazakii. Namun, tidak satu pun anak Indonesia yang dilaporkan terinfeksi bakteri tersebut.

Infeksi akibat E Sakazakii sangat jarang dan relatif tak mengganggu anak sehat. Tapi, terhadap kelompok anak tertentu dengan gangguan kekebalan tubuh, infeksi bakteri itu bisa mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya, bahkan dapat mengancam jiwa.

Tiga cara

Badan Kesehatan Sedunia (WHO) menjelaskan, ada tiga cara susu formula untuk bayi bisa terkontaminasi E Sakazakii. Pertama, melalui materi mentah yang digunakan untuk memproduksi susu formula. Kedua, melalui kontaminasi dari lingkungan tidak bersih pada saat caregiver (baik ibu, suster, maupun lainnya) menyiapkan susu formula sebelum diberikan kepada bayi. Ketiga, melalui kontaminasi setelah pasteurisasi.

Karena keterbatasan pengawasan dan sistem pelaporan E Sakazakii di banyak negara, besaran masalah akibat bakteri ini pun tidak diketahui. Sebuah literatur di Inggris melaporkan bahwa pada 1961–2003 terdapat 48 kasus bayi sakit akibat E Sakazakii. Hasil sur vei The US FoodNet 2002 menunjukkan, angka invasi infeksi E Sakazakii pada bayi di bawah satu tahun sebesar satu per 100 ribu.

Saatnya pemerintah secara tegas mengeluarkan rekomendasi bahwa susu komersial memang bukan produk steril seperti yang direkomendasikan WHO dan FDA. Tindakan preventif ini pasti berisiko lebih ringan karena masyarakat akan lebih waspada dalam pencegahannya. Rekomendasi itu merupakan hal yang wajar karena beberapa negara maju pun melakukan hal yang demikian. Sebaliknya, bila susu bubuk komersial tetap dianggap aman, masyarakat men jadi lengah dalam proses penyajiannya.

Rekomendasi lainnya adalah cara penyajian susu bubuk formula untuk bayi dengan baik dan benar. Dengan pemanasan air di atas 70 derajat Celcius, bakteri yang ada dalam susu dipastikan akan mati. Kepada anak yang berisiko seperti bayi prematur dan anak dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh berat, direkomendasikan memberi susu bayi formula cair siap saji. Susu siap saji dianggap sebagai produk komersial steril karena proses pemanasannya cukup.

Namun, dari berbagai penelitian seperti yang dilakukan WHO dan FDA, jelas bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril. Penelitian yang dila kukan BPOM menyebutkan, susu bubuk komersial adalah aman, tetapi sebenarnya hal itu semata-mata disebabkan oleh perbedaan dalam sensitivitas dan spesifikasi alat serta metode identifikasinya.

Heboh temuan IPB tentang susu formula yang mengandung E Sakazakii, sekali lagi mengingat kan para ibu yang masih me miliki bayi agar kembali menggunakan air susu ibu (ASI). ASI telah terbukti kehebatannya sebagai anugerah Tuhan untuk menjaga kesehatan

ABIDAR

Mantan Pegawai Kementerian Kesehatan.

Download file lengkaanya disini.

About Sharing Data
Kami hanya ingin berbagi ilmu dan informasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: